StockReview.id – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi sinyal kuat akan merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) guna mengakomodasi percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan langkah ini merupakan arahan langsung Presiden untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat pemanfaatan energi baru terbarukan di dalam negeri.
Tahap awal pengembangan akan difokuskan pada kapasitas 17 GW yang tengah dirinci oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), sebelum ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai target 100 GW.
Revisi RUPTL dinilai penting mengingat rencana saat ini hanya menargetkan kapasitas energi baru terbarukan sebesar 69,5 GW dalam 10 tahun. Pemerintah menegaskan dokumen tersebut bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta arah kebijakan terbaru.
Selain untuk mendukung transisi energi, percepatan PLTS juga bertujuan menyerap produksi panel surya domestik yang menghadapi tantangan ekspor, khususnya ke pasar Amerika Serikat akibat kebijakan tarif.
Strategi implementasi akan difokuskan pada substitusi pembangkit diesel (dedieselisasi) serta konversi pembangkit gas. Wilayah dengan biaya pokok penyediaan listrik tinggi akan menjadi prioritas pengembangan PLTS.
Dengan langkah ini, pemerintah optimistis target ambisius 100 GW dapat tercapai melalui perencanaan yang lebih adaptif, sekaligus mendukung kebutuhan energi nasional dan mendorong efisiensi biaya listrik.






