Foto: Ilustrasi.

StockReview.id – Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) telah mengambil langkah hukum terhadap Consensys, salah satu perusahaan pengembang Ethereum.

Gugatan ini diajukan dengan tuduhan bahwa Consensys menawarkan wallet kripto MetaMask yang bertindak sebagai broker sekuritas yang tidak sah dan menjual sekuritas kripto yang tak terdaftar.

Menurut rilis pers pada 28 Juni, SEC menuduh Consensys telah mengumpulkan lebih dari US$250 juta sejak tahun 2020 melalui layanan MetaMask Swaps. Selama periode tersebut, Consensys diduga memfasilitasi lebih dari 36 juta transaksi kripto, termasuk setidaknya 5 juta transaksi sekuritas kripto.

Sejak Januari 2023, Consensys juga dikatakan telah menawarkan dan menjual sekuritas tak terdaftar melalui program staking kripto mereka, khususnya layanan MetaMask Staking. Regulator sekuritas itu juga menuduh bahwa Consensys bertindak sebagai broker tidak terdaftar dalam menawarkan program staking pihak ketiga seperti Lido dan Rocket Pool kepada pelanggan MetaMask.

“Dengan diduga mengumpulkan ratusan juta dolar dalam bentuk biaya sebagai broker tidak terdaftar dan terlibat dalam penawaran dan penjualan sekuritas yang tidak terdaftar, Consensys secara langsung terlibat dalam pasar sekuritas AS tanpa memberikan perlindungan yang dijamin oleh undang-undang sekuritas federal kepada para investor,” kata Direktur Divisi Penegakan SEC, Gurbir S. Grewal.

SEC meminta pengadilan untuk menerapkan berbagai sanksi terhadap Consensys, termasuk perintah tetap, denda sipil, dan tindakan adil lainnya yang dianggap perlu atas pelanggaran tersebut.

Perang Hukum Consensys dan SEC

Di bawah kepemimpinan Gary Gensler, SEC telah memperingatkan sejak 2022 bahwa kripto dan platform yang menawarkan layanan staking mungkin saja memenuhi kriteria Howey Test. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah suatu transaksi merupakan kontrak investasi dan dapat dianggap sebagai sekuritas.

Pada April 2024, Consensys mengajukan gugatan terhadap SEC yang dianggap berusaha mengatur Ethereum (ETH) yang berada di luar lingkup wewenangnya.

Menurut Consensys, apabila SEC mengambil mengatur ETH sebagai sekuritas maka akan menimbulkan bencana bagi jaringan Ethereum, dan bagi Consensys. Pihaknya juga berargumen bahwa MetaMask tidak berfungsi sebagai broker sekuritas di bawah undang-undang federal AS.

“MetaMask hanyalah sebuah antarmuka — seperti browser web — yang memungkinkan pemegang aset digital berinteraksi secara lancar dengan jaringan Ethereum, termasuk semua jaringan Ethereum lainnya,” tulis Consensys pada saat itu.
Gugatan terhadap Consensys menambah daftar panjang perusahaan kripto yang menjadi target SEC untuk tindakan hukumnya.

Sebelumnya, exchange kripto seperti Binance, Kraken, dan Coinbase, juga menjadi sasaran SEC karena dianggap telah menawarkan beberapa mata uang kripto yang  termasuk ke dalam sekuritas yang tidak terdaftar.