StockReview.id – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat total volume penjualan semen dan klinker sebesar 8,891 juta ton pada Semester I-2025, turun 1,6% atau setara 140 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 9,032 juta ton. Penurunan volume penjualan ini membuat pendapatan neto perseroan ikut terkoreksi 1,1% menjadi Rp8,03 triliun dari Rp8,12 triliun pada semester pertama 2024.
Beban pokok pendapatan turun 2,3% menjadi Rp5,69 triliun, sehingga margin laba bruto meningkat menjadi 29,2% dari sebelumnya 28,3%. Beban usaha juga berkurang 1,8% menjadi Rp1,7 triliun, sementara beban operasi lain-neto anjlok 382,9% menjadi minus Rp35,1 miliar akibat rugi kurs, berbalik dari keuntungan kurs pada tahun lalu.
Perseroan mencatat margin laba usaha sebesar 7,5% dan EBITDA 16,8%. Pendapatan keuangan-neto melonjak 112,6% menjadi Rp5,7 miliar dari posisi minus Rp45,4 miliar, didorong bunga atas saldo kas yang lebih besar. Beban pajak penghasilan bersih naik 12,6% menjadi Rp122,1 miliar seiring pertumbuhan laba.
Secara keseluruhan, laba periode berjalan Indocement tumbuh 13,8% menjadi Rp494,8 miliar dari Rp434,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Per 30 Juni 2025, perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp3,4 triliun.
Corporate Secretary Indocement, Dani Handajani, mengatakan bahwa meskipun permintaan semen domestik melemah pada paruh pertama tahun ini, volume penjualan diperkirakan akan meningkat pada paruh kedua berkat cuaca lebih kering, jumlah hari libur yang lebih sedikit, serta peningkatan belanja konstruksi menjelang akhir tahun. Proyeksi perusahaan pun direvisi menjadi volume semen domestik stagnan untuk sepanjang 2025.
Indocement terus fokus pada efisiensi biaya dan peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif (AF). Salah satu proyek utama di Kompleks Pabrik Grobogan tengah berjalan, dengan target peningkatan kapasitas pengumpan biomassa dari 10 ton per jam menjadi 40 ton per jam. Proyek ini diharapkan beroperasi penuh pada kuartal IV-2025.