StockReview.id – Kementerian Keuangan Republik Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mampu mencapai 5,5 persen. Keyakinan tersebut didorong oleh kuatnya penerimaan pajak serta percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan bahwa penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tumbuh signifikan sebesar 57,7 persen secara tahunan menjadi Rp155,6 triliun hingga Maret 2026. Menurutnya, peningkatan ini mencerminkan aktivitas konsumsi masyarakat dan dunia usaha yang tetap kuat.
Selain itu, penerimaan pajak secara keseluruhan tercatat naik 20,7 persen secara tahunan. Sementara total pendapatan negara, yang mencakup pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan cukai, meningkat 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi belanja, pemerintah juga mencatat percepatan realisasi anggaran. Hingga akhir kuartal I 2026, belanja negara telah mencapai 21,2 persen dari pagu APBN, lebih tinggi dibandingkan 17,1 persen pada periode yang sama tahun lalu. Secara nominal, realisasi belanja negara melonjak 31,4 persen menjadi Rp815 triliun.
Menurut Juda, akselerasi belanja pemerintah ini merupakan bagian dari strategi fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata sepanjang tahun. Meski demikian, defisit anggaran tetap terjaga di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ke depan, pemerintah menargetkan realisasi belanja pada kuartal II mencapai sekitar 26 persen dari APBN, dengan proyeksi serupa pada kuartal berikutnya. Strategi ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan berkelanjutan di tengah tantangan global.








