Foto: Ilustrasi.

StockReview.id – Barito Pacific T (BRPT) menuturkan bahwa hasil kinerja keuangan di semester I tahun 2023 sebagian mencerminkan moderasi momentum pemulihan ekonomi China dan pemulihan permintaan.

Agus Pangestu, Direktur Utama BRPT menjelaskan, hal ini adalah perbaikan setelah lonjakan dan pemulihan permintaan pasca pelonggaran pembatasan mobilitas yang mempengaruhi industri petrokimia global.

“Namun demikian, strategi kami tetap konsisten untuk terus menjaga kewaspadaan tinggi sepanjang tahun 2023, dengan posisi neraca Chandra Asri (CAP) yang kuat terus mendukung rencana transformasi dalam diversifikasi dan membangun profil ketahanan yang lebih kuat,” paparnya belum lama ini.

Ia melanjutkan, secara keseluruhan, hasil dari transformasi bisnis BRPT melalui ekspansi pada segmen panas bumi terus berkontribusi positif terhadap kinerja konsolidasi keuangan Perusahaan.

Pada semester I 2023, pendapatan konsolidasi BRPT turun sebesar 15,1% YoY menjadi US$1,374 juta akibat penjualan yang lebih rendah seiring dengan dinamika supply dan demand yang masih berlanjut di segmen petrokimia.

“Pendapatan bersih dari bisnis petrokimia kami turun 19.6% YoY menjadi US$1,074 juta pada 6M-2023, sebagian besar disebabkan oleh gangguan eksternal dalam penawaran dan permintaan global, yang mengakibatkan penurunan volume penjualan,” paparnya.

Ia menambahkan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 233% di angka US$ 30 juta dibandingkan periode yang sama di angka US$9 juta.

Pendapatan Star Energy Geothermal meningkat 6,8% YoY menjadi US$297 juta pada semester I 2023 dibandingkan periode yang sama tahun 2022, didorong oleh penjualan pembangkit listrik dan uap yang lebih tinggi.

Meskipun pendapatan menurun, pemulihan operasional petrokimia dan segmen panas bumi yang stabil mendorong pertumbuhan EBITDA yang lebih kuat sebesar 35% YoY menjadi US$349 juta dari US$258 juta.

Hal ini mencerminkan peningkatan EBITDA margin ke 25,43% dibandingkan dengan 15,94% pada periode yang sama tahun lalu. Lalu, beban pokok pendapatan konsolidasi turun sebesar 21,8% menjadi US$1,089 juta pada semester I 2023 dari US$1,393 juta pada tahun lalu.

Beban pokok pendapatan menurun terutama karena biaya bahan baku yang jauh lebih rendah, terutama Nafta, yang turun menjadi US$644/T, dari rata-rata US$902/T pada periode yang sama tahun lalu didukung oleh harga minyak mentah Brent yang lebih rendah (turun 23,8% YoY menjadi rata-rata US$80/barel dibandingkan US$105/barel pada semester I 2022). (***)