Pemerintah berencana menggelontorkan insentif dan stimulis kepada pelaku industri, guna mengantisipasi dampak resesi global yang diprediksi terjadi pada 2023. Pemerintah akan mencoba membuat dan menerbitkan sejumlah kebijakan-kebijakan, khususnya kebijakan mengenai insentif atau stimulus.

StockReview.id – Pemerintah berencana menggelontorkan insentif dan stimulis kepada pelaku industri, guna mengantisipasi dampak resesi global yang diprediksi terjadi pada 2023. Pemerintah akan mencoba membuat dan menerbitkan sejumlah kebijakan-kebijakan, khususnya kebijakan mengenai insentif atau stimulus yang juga pernah dilakukan pada masa awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, insentif atau stimulis yang diberikan diharapkan dapat mendorong optimisme ekonomi di Indonesia. “Pasar domestik juga harus segera diciptakan demi menjadi modal Indonesia. di Jakarta, kemarin.

Agus menyebut, belum mengungkapkan insentif apa yang akan diberikan. Ia mengaku masih akan mempelajari dan mengkaji lantaran banyak faktor yang membuat industri kesulitan mulai dari pasar global, hingga bahan baku industri.

Sementara, itu industri manufaktur di Indonesia masih menunjukkan geliat positif di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu akibat krisis dan resesi. Ini tercermin dari laporan S&P Global yang menunjukkan capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Oktober yang berada di level 51,8, turun dibanding posisi September 2022 yang sebesar 53,7.

Agus menambahkan sejah ini belum menerima laporan terkait adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pelaku industri .”Kami belum dapat laporan dari pelaku industri terhadap PHK,” katanya.

Sementara itu industri manufaktur di Indonesia masih menunjukkan geliat positif di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu akibat krisis dan resesi. Ini tercermin dari laporan S&P Global yang menunjukkan capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Oktober yang berada di level 51,8, turun dibanding posisi September 2022 yang sebesar 53,7.