StockReview.id – PT PAM Mineral Tbk (NICL) menargetkan dapat memproduksi nikel minimal sebesar 2,6 juta metrik ton (MT) pada tahun ini. Jumlah tersebut dengan mengasumsikan adanya pertumbuhan sebesar 24 persen, dari realisasi produksi tahun lalu yang sebesar 2,1 MT.
Sementara itu, realisasi tersebut didapat dari kontribusi tambang utama milik perusahaan, ditambah dari tambang anak usaha, yaitu PT Indrabakti Mustika (IBM), yang 99,05 persen sahamnya dimiliki oleh NICL.
“(Target) Peningkatan produksi ini didasari adanya tren kenaikan harga yang cukup signifikan dan lebih kompetitif untuk Harga Patokan Mineral (HPM),” ujar Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka, dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (4/5/2023).
Target peningkatan produksi, menurut Ruddy, juga berlaku untuk biji nikel dengan kadar 1,3 hingga 1,75 persen Ni. uddy menjelaskan peningkatan target produksi juga didukung dengan estimasi permintaan yang cukup tinggi dari konsumen pada tahun ini.
“Dengan adanya peningkatan produksi akan memberikan dampak positif bagi kinerja operasional dan keuangan kami, yang nantinya akan tercermin dalam peningkatan laba bersih NICL,” tutur Ruddy.
Dengan demikian, Ruddy menjelaskan, pada akhirnya akan memberikan nilai tambah yang positif bagi pemegang saham dan stakeholder. Selain itu, target peningkatan produksi juga mempertimbangkan situasi geopolitik internasional yang masih belum kondusif. Kondisi ini akan mempengaruhi harga solar industri yang merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi.
“Hal ini akan menyebabkan semakin besarnya modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dalam upaya meningkatkan produksi,” ungkap Ruddy.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, lanjut Ruddy, kebutuhan modal kerja akan semakin besar sehingga perseroan melakukan perubahan penggunaan sisa dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan perubahaan dana hasil pelaksanaan waran. Perusahaan saat ini telah meminta persetujuan dari pemegang saham terkait rencana perubahan penggunaan sisa dana hasil IPO dan dana hasil pelaksanaan waran tersebut.
“Perseroan akan fokus pada rencana eksplorasi, produksi dan hilirisasi. Rencana eksplorasi bertujuan untuk menambah inventory cadangan nikel, sementara rencana produksi diterapkan dengan merevisi Dokumen Studi Kelayakan (feasibility study) untuk 2024–2025 dan melakukan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) pada 2024,” ungkap Ruddy.
Dijelaskan Ruddy, prospek bisnis NICL bakal ditopang oleh prospek tingginya permintaan bijih nikel kadar tinggi, terutama karena industri pengolahan (smelter).
“Kami akan meningkatkan kegiatan eksplorasi dan produksi di tahun ini seiring dengan pertumbuhan kinerja dan tingginya kebutuhan nikel, terutama industri manufaktur, konstruksi, dan bahan baku produksi baterai kendaraan listrik,” papar Ruddy.