StockReview.id – PT Pertamina (Persero) menyiapkan lima strategi bisnis utama dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 untuk menghadapi ketidakpastian akibat gejolak geopolitik global yang memengaruhi sektor energi.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa dinamika global seperti konflik di Timur Tengah dan tekanan di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi memicu volatilitas pasokan serta harga energi dunia. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan strategi perusahaan ke depan.
Menurut Simon, Pertamina telah melalui berbagai tantangan sepanjang 2025, mulai dari tekanan ekonomi global hingga kompleksitas operasional. Meski demikian, perusahaan tetap berkomitmen menjadi penopang ketahanan energi nasional sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis.
Dalam menghadapi 2026, Pertamina menetapkan lima strategi utama. Pertama, menjaga disiplin biaya di seluruh lini operasional. Kedua, meningkatkan keandalan dan efisiensi operasi. Ketiga, menjalankan investasi secara selektif dengan fokus pada proyek strategis. Keempat, membangun organisasi yang lebih adaptif terhadap perubahan. Kelima, mendorong inovasi sebagai kunci menghadapi dinamika industri energi.
Selain itu, Pertamina juga berupaya memanfaatkan tantangan geopolitik sebagai peluang, salah satunya dengan meningkatkan efisiensi operasional dan optimalisasi utilisasi kilang. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan volume penjualan produk energi berkualitas.
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menegaskan bahwa ketahanan energi tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Dalam jangka pendek, Pertamina fokus menjaga pasokan energi agar tetap stabil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Dengan strategi tersebut, Pertamina menargetkan tidak hanya pertumbuhan bisnis, tetapi juga penguatan ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional di tengah tekanan geopolitik yang terus berkembang.






