News

DPR Dorong Percepatan Jalur Terpisah KRL Dan Kereta Antarkota

×

DPR Dorong Percepatan Jalur Terpisah KRL Dan Kereta Antarkota

Sebarkan artikel ini

DPR mendorong percepatan proyek Double-Double Track Jakarta-Cikarang dan pemisahan jalur KRL serta kereta antarkota demi keselamatan perjalanan.

Foto: Ilustrsi.

StockReview.id – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) mendorong percepatan pemisahan jalur operasional kereta rel listrik (KRL) dan kereta api antarkota menyusul insiden kecelakaan kereta di wilayah Bekasi Timur, Jawa Barat.

Wakil Ketua Komisi V DPR, Andi Iwan Darmawan Aras, menilai penyelesaian proyek Double-Double Track (DDT) Jakarta–Cikarang harus menjadi prioritas untuk meningkatkan keselamatan dan kapasitas layanan transportasi kereta api.

Menurutnya, kecelakaan yang terjadi di Bekasi Timur menunjukkan adanya tekanan sistemik pada jalur rel perkotaan yang memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional.

Ia menegaskan keselamatan perjalanan kereta tidak cukup hanya mengandalkan disiplin operasional harian, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi, mengisolasi, dan memutus potensi risiko sejak awal gangguan terjadi.

Selain percepatan proyek DDT, DPR juga menyoroti persoalan perlintasan sebidang yang masih menjadi titik rawan kecelakaan di berbagai daerah. Pemerintah diminta segera melakukan pembenahan guna meminimalkan risiko kecelakaan di jalur kereta api.

Sementara itu, pengamat transportasi Darmaningtyas menilai proyek Double-Double Track sangat penting untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta, khususnya pada jalur padat di kawasan perkotaan.

Dengan adanya pemisahan jalur antara kereta lokal dan kereta jarak jauh, operasional perjalanan dinilai dapat berlangsung lebih aman dan minim gangguan.

Selain pembangunan jalur terpisah, Darmaningtyas juga mendorong penerapan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta api. Teknologi tersebut memungkinkan masinis memantau kondisi jalur di depan, termasuk mendeteksi gangguan maupun keberadaan kereta lain dalam radius tertentu.

Menurutnya, kombinasi penyelesaian proyek DDT dan penggunaan teknologi berbasis GPS akan memperkuat sistem monitoring perjalanan kereta sekaligus menekan potensi kecelakaan di masa mendatang.