StockReview.id – Perusahaan manufaktur gas industri PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) optimistis menyambut tahun 2023. Dengan menargetkan endapatan hingga Rp 123 miliar di tahun depan dengan ekspansi pabrik baru

Direktur Operasional Surya Biru Murni Acetylene Iwan Sanyoto membeberkan bahwa saat ini SBMA sedang menggarap pengembangan pabrik dengan unit Air Separation Plant (ASP) atau dikenal sebagai ASP Development Project (ADP). ADP bertujuan untuk meningkatkan produksi oksigen dan nitrogen.

Pembangunan pabrik ADP, SBMA akan bisa menangkap pasar gas likuid yang punya potensi 5 juta liter per tahun untuk memenuhi permintaan pasar seperti dari industri petrokimia, migas, medis dan distributor.

“Eksisting hanya sekitar 3 juta liter per tahun, yang belum tersentuh ada 2 juta liter. Pasar likuid potensinya besar, tapi belum tergarap mengingat kapasitas pabrik sekarang,” jelas Iwan dalam paparan public virtual yang digelar Senin (7/11/2022).

ASP difabrikasi di China untuk kemudian dikirim dan dirakit di Balikpapan. Proyek ini menyerap dana sekitar Rp 39 miliar, yang mana Rp 18 miliar telah dihimpun SBMA lewat aksi Initial Public Offering (IPO) pada September 2021 lalu.

Direktur Keuangan Surya Biru Murni Acetylene, Cintia Kasmiranti menambahkan, hingga saat ini belanja modal (capex) untuk ekspansi itu telah terserap 70%. Sisa 30% akan direalisasikan pada Januari 2023.

Adapun ADP dijadwalkan commisioning pada Januari 2023, dengan pengoperasian secara bertahap hingga lima tahun ke depan untuk menjaga efisiensi dan efektivitas mesin.

Strategi ini akan ikut menopang target pendapatan SBMA dalam beberapa tahun ke depan. SBMA membidik pendapatan Rp 123 miliar pada tahun 2023. Setelah itu, SBMA memproyeksikan bisa meraup pendapatan sebesar Rp 136 miliar pada tahun 2024 dan Rp 154 miliar pada tahun 2025.

Sedangkan untuk tahun ini, SBMA menargetkan pendapatan sebesar Rp 98 miliar. Menimbang realisasi terkini, Iwan optimistis SBMA bisa melampaui target tersebut. untuk bulan November dan Desember SBMA sudah mengantongi kontrak gas-gas khusus seperti untuk industri petrokimia. “Kami yakin akan melebihi dari target penjualan tahun 2022,” ungkap Iwan.

Adapun hingga periode kuartal III-2022, SBMA meraih laba bersih periode berjalan sebesar Rp 7,47 miliar. Laba bersih ini meroket 179,77% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan nilai Rp 2,67 miliar.

Lonjakan laba bersih ini sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha. Sepanjang periode sembilan bulan 2022, SBMA meraup pendapatan usaha sebesar Rp 73,42 miliar, naik 19,59% secara tahunan.

“Peningkatan pendapatan disebabkan adanya kenaikan permintaan gas industri terutama yang menunjang aktivitas pertambangan dan migas,” sebut Cintia.

Dari target pendapatan Rp 123 miliar, Cintia menyampaikan SBMA membidik net profit sebesar Rp 12 miliar pada tahun depan. Sedangkan capex yang dianggarkan tahun 2023 sebesar Rp 10 miliar untuk pembelian peralatan distribusi likuid saat ADP beroperasi.