StockReview,id – PT Bank Mega Tbk mencatat transformasi signifikan dalam perilaku nasabah sepanjang 2025, dengan mayoritas transaksi kini beralih ke kanal digital. Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib, mengungkapkan bahwa sebanyak 97 persen transaksi nasabah telah dilakukan melalui layanan elektronik.
Hal ini membuat transaksi di kantor cabang menyusut drastis dan hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total aktivitas transaksi. Perubahan ini mencerminkan tren digitalisasi yang semakin kuat di sektor perbankan.
Dari keseluruhan transaksi digital tersebut, sebanyak 86 persen dilakukan melalui aplikasi mobile banking “M-Smile”. Sementara itu, sisanya berasal dari penggunaan ATM dan EDC yang menyumbang sekitar 11 persen.
Selain itu, volume transaksi di kantor cabang juga mengalami penurunan signifikan. Pada 2022, sekitar 90 persen transaksi masih terjadi di cabang, namun angka tersebut turun menjadi 56 persen pada 2025. Penurunan ini menunjukkan bahwa tidak hanya nasabah ritel, tetapi juga nasabah besar mulai beralih ke layanan digital.
Seiring tren tersebut, Bank Mega berencana mengoptimalkan biaya operasional dengan fokus pada pengembangan digitalisasi di tahun 2026. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat layanan berbasis teknologi.
Dari sisi kinerja, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Bank Mega juga mengalami perbaikan, turun menjadi 69,12 persen dari sebelumnya 73,61 persen. Hal ini menunjukkan peningkatan efisiensi seiring transformasi digital yang dijalankan perusahaan.












