Ekonomi Bisnis

Inflasi Maret 2026 Melandai Namun Risiko Harga Tetap Tinggi

×

Inflasi Maret 2026 Melandai Namun Risiko Harga Tetap Tinggi

Sebarkan artikel ini

Inflasi Maret 2026 melandai ke 0,41%, namun risiko kenaikan harga masih mengintai dari faktor energi dan global.

Inflasi tahunan November

StockReview.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Maret 2026 sebesar 0,41% secara bulanan (mtm), melandai dibandingkan Februari yang mencapai 0,68%. Penurunan ini menunjukkan tekanan harga mulai mereda setelah sempat meningkat pada awal tahun.

Secara rinci, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 110,57 menjadi 110,95, dengan inflasi tahun kalender (ytd) sebesar 0,94%. Meski melambat, tekanan inflasi masih dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 1,07% mtm dan menjadi penyumbang terbesar.

Sejumlah komoditas pangan seperti ikan segar, daging ayam ras, beras, telur, cabai rawit, dan daging sapi menjadi pendorong utama kenaikan harga. Selain itu, bensin dan tarif angkutan antarkota juga turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan.

Di sisi lain, beberapa komoditas berhasil menahan laju inflasi. Tarif angkutan udara dan harga emas perhiasan mencatat deflasi, sehingga membantu meredam kenaikan harga secara keseluruhan.

Secara tahunan, inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 3,48% (yoy), turun dari 4,76% pada Februari. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, terutama akibat kenaikan tarif listrik.

Inflasi inti tercatat 2,52% yoy, sementara inflasi harga diatur pemerintah mencapai 6,08% yoy dan inflasi harga bergejolak sebesar 4,24% yoy. Seluruh komponen inflasi tersebut menunjukkan kenaikan secara tahunan.

Ke depan, pergerakan inflasi sangat bergantung pada kebijakan harga energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM). Jika harga tetap dijaga, inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,72% hingga akhir 2026.

Namun demikian, risiko inflasi masih mengintai, terutama dari tekanan global seperti konflik geopolitik dan potensi kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, faktor domestik seperti kebijakan fiskal dan peningkatan permintaan pangan juga dapat mendorong kenaikan harga.

Dengan berbagai dinamika tersebut, inflasi diperkirakan tetap terkendali, namun ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas karena risiko tekanan harga yang masih cukup besar.